Foto oleh: silvia di natale’S, Some rights reserved.

Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”. 

Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.


Foto oleh: xfce, Some rights reserved.

Karena berbagai kemudahannya, saya selalu menyarankan kepada beberapa teman yang ingin nge-blog dengan domain dan hosting sendiri, untuk mempergunakan Wordpress. Sejujur nya, dibandingkan Textpattern atau Drupal, banyak hal yang tidak dimiliki Wordpress memang; tapi menyangkut kemudahan, Wordpress memberikan lebih banyak kenyamanan. Setelah membantu beberapa teman menginstalasi Wordpress, ada baiknya mungkin saya membagi tips kecil menulis puisi di Wordpress ini, yang saya peroleh dari masalah teman-teman. Dalam hal ini saya mempergunakan Wordpress versi 2.5.1 (mestinya juga berlaku di Wordpress.com dan Blogspot.com):
read more »

It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.

(Benedict Anderson, Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant, New Left Review, March-April 2008)


Foto oleh: kevindooley, Some rights reserved.

Sebenarnya hari ini saya ingin menulis catatan jalan-jalan ke Lampung dua hari kemarin (30 April-1Mei 2008) bersama Joko Pinurbo dan Binhad Nurrohmat (serta istri saya). Tapi mendadak kemarin, di jalan pulang ke Jakarta, Binhad memberi tahu saya: Alex sudah meninggal. Waktu itu saya belum tahu, Alex mana yang dimaksudnya. Saya punya beberapa teman bernama Alex. Setelah dijelaskan Binhad, baru saya tahu, yang dimaksud adalah penjaga kedai “Warung Alex” tempat kami biasanya nongkrong di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Kalau saya membuat janji dengan seseorang untuk bertemu di TIM, saya pasti akan meminta bertemu di “Warung Alex”. Sebenarnya itu bukan nama sebenarnya, dan teman-teman saya yang baru pertama kali ke TIM suka kecele mencari papan nama “Warung Alex” dan dijamin tak akan pernah menemukannya. Nama warung itu yang sebenarnya adalah “Cipta Rasa”.

Reading maketh a full man; conference a ready man; and writing an exact man. (Francis Bacon, Sr.)