30 May 2008
Foto oleh: Boby Dimitrov, Some rights reserved.
Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.
Jawaban Pramoedya adalah kembali ke [...]
19 May 2008
Telah beredar majalah Tempo edisi khusus dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Judul sampulnya: “Indonesia yang Kuimpikan”. Di dalamnya ada ulasan mengenai 100 buku/teks dalam seabad Indonesia (1908-2008) yang dianggap membawa pengaruh pada kehidupan bangsa Indonesia, serta mampu menjelaskan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Saya promosikan edisi ini karena saya menulis salah satu artikel di dalamnya [...]
24 April 2008
© Kazuo Koike & Goseki Kojima. Hanya untuk referensi.
Saya menyukai Lone Wolf and Cub pertama-tama barangkali karena karakter gambarnya yang tak jauh berbeda dengan komik silat Indonesia tahun 70an. Dengan kata lain, berbeda dengan manga kebanyakan yang cenderung meng-karikaturkan (dengan penekanan kuat terhadap bentuk kanak-kanak di satu sisi, namun mengandung unsur sensual di sisi lain). [...]
15 March 2008
Foto oleh: Idea-man, Some rights reserved.
“Jangan tinggalkan aku sekarang, atau aku tak akan memaafkanmu, dan aku akan membalas dendam, aku akan membunuhmu dan jika kau punya anak dari lelaki lain aku akan membunuh anak-anak itu juga,” demikian kata Shalimar sang pencinta Muslim di pertengahan Shalimar the Clown.
Boonyi, sang kekasih Hindu, menjawab ancaman itu dengan enteng: [...]
04 March 2008
© Alan Moore & David Lloyd. Hanya untuk referensi.
Masih ingat novel terkenal karya George Orwell berjudul 1984 (Nineteen Eighty Four)? Novel itu berkisah mengenai rezim fasis di mana seluruh aktivitas warga negaranya dikontrol oleh penguasa. Tak ada tindakan yang tak terlihat, dan tak ada ucapan yang tak terdengar. Orwell merupakan penulis Inggris, dan negeri yang [...]
01 March 2008
Membaca buku di dalam toko? Bahkan toko buku sebesar Gramedia Matraman pun tak menyediakan sofa, apalagi kedai kopi di dalam toko yang bisa menjadi tempat rehat. Aduh, jangankan sofa untuk membaca buku di dalam toko, sebagian besar toko buku Gramedia selalu memberi peringatan: dilarang membuka pembungkus plastik, yang artinya, dilarang membaca buku!
23 February 2008
Dengan semua cara baca yang terbata-bata serupa itu, mau tidak mau, saya sangat tergantung dengan yang namanya pembatas buku. Saya sudah mengetahui betapa pentingnya barang kecil ini sejak dulu. Bahkan, waktu saya masih belajar desain grafis, barang yang paling sering saya desain adalah pembatas buku. Begitu pula waktu bekerja di sebuah penerbitan, saya sering mengakali sisa kertas sampul buku untuk dibuat pembatas.
16 February 2008
16 tahun kemudian ternyata Yoko tidak menemukan Siau Liong Lie. Ia memutuskan untuk melompat dari jurang sebagaimana kekasihnya (jujur: ada satu adegan sepasang kekasih melompat ke jurang di Cantik itu Luka, yang saya ambil dari episode Yoko dan Siau Liong Lie ini, hehehe). Oh ya, endingnya mereka tidak mati, kok. Mereka bertemu di lembah (yang ada danaunya). Saya ingat adegan pertemuan ini: Yoko menyadari Siau Liong Lie masih hidup karena menemukan pesan yang ditulis di sayap lebah … busyet, ini cerita silat banget, kan!
14 February 2008
Mumpung Valentine (latah …), saya mencoba mendaftar 10 novel cinta paling menyebalkan. Alih-alih mempergunakan kata “terbaik”, saya mempergunakan kata “menyebalkan” justru untuk menghormati karya-karya berikut ini. Bukankah karya yang baik selalu merupakan gangguan … dan menyebalkan?
1. Dracula (Bram Stoker)
Saya selalu percaya, lebih dari sekadar novel gothic, Dracula sesungguhnya novel cinta. Cinta macam apa? Hmm … [...]
04 February 2008
“Novel” di hari-hari sekarang ini mungkin merupakan barang remeh-temeh. Orang-orang membacanya di perpustakaan maupun di bangku bis kota. Sebuah karya klasik yang berat seperti Ulysses karya James Joyce maupun buku cerita misteri yang dijual di pinggir jalan seharga Rp. 3000 karya Tara Zagita, siapa pun akan sama menyebutnya: novel.
Bahkan di antara para penulis sendiri, istilah [...]